Sebenarnya, tak ada niat sedikit pun di hati untuk sendiri. Dunia ini begitu indah untuk dilewatkan tanpa adanya orang yang spesial. Tapi, waktu melangkah begitu cepat. Hingga aku tak ingat, apa saja yang pernah aku lalui. Semua hal yang sudah terjadi, tak mengijinkanku untuk merekam serpihan memori masa lalu.
Tak ada yang peduli. Tak ada yang mencoba tuk menghiraukan. Satu per satu masa kelam kulewati begitu berat. Hingga aku tak sadar, aku telah tersesat di sebuah dunia putih. Dunia yang benar-benar putih. Tak ada pola atau bahkan coretan sedikitpun yang menghiasinya.
Sendiri. Sepi. Kosong.
Barisan kata-kata itu seolah selalu mengikutiku dimana pun diriku berada. Kakiku bergetar, tak sanggup menopang seluruh beban. Ingin rasanya kembali ke masaku. Masa dimana hal-hal sulit harus aku lalui. Tak peduli tamparan maupun hinaan aku terima. Sungguh, aku tak peduli.
Waktu memang teramat kejam. Ia terus berjalan bahkan sengaja tuk berlari meninggalkanku yang telah terpuruk di belakang. Walaupun aku sudah kehabisan suara untuk berteriak. Dan air mataku sudah kering karenanya. Ia tetap saja tak berhenti. Berpaling sedikitpun tidak. Yang ada hanya tawaan keras yang seiring dengan langkahnya menjauhiku. Sayup namun pasti, ku mendengar sedikit suara yang ia keluarkan.
"Semuanya sudah terlambat."
Di saat pikiranku masih terlalu abu-abu, tiba-tiba muncul setitik cahaya yang terang benderang dari kejauhan. Semakin lama, cahaya itu semakin mendekat. Rasa pening seketika hinggap di kepalaku. Badanku mulai lemas dan ambruk di tempat. Dapat kurasakan rasa sakit kini mulai menyergap perlahan dari kaki hingga ujung rambutku. Membuatku makin terasa amat tersiksa. Oksigen di sekitarku dalam sekejap langsung lenyap tak berbekas. Yang ada hanyalah ruang hampa yang menyelimutiku.
Cahaya yang hampir mendekatiku itu, entah kenapa kini berbalik. Beranjak pergi menjauhiku. Sinarnya kini tampak mulai meredup, seiring dengan kedua kelopak mataku yang perlahan menutup. Hingga semuanya terasa gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar